Bloggroll

Jumat, 16 Desember 2011

Pembelajaran Sains di Kelas 5

Berbicara
Seperti halnya kegiatan menulis dan membaca, berbicara juga mempunyai keutamaan dalam kegiatan belajar sains. Seperti halnya menulis, bermanfaat juga untuk membedakan kegiatan berbicara ini menjadi dua hal: berbicara kepada orang lain, yang berfokus untuk mengkomunikasikan ide dan informasi ke pihak lain (guru, siswa lainnya) secara formal di kelas atau dalam diskusi kelompok; berbicara pada diri sendiri, yang berfokus pada konstruksi pengetahuan individu tentang informasi baru yang diterimanya. Keduanya berbeda dilihat dari derajat keformalannya dan penggunaan bahasa yang dipakai. Berbagai jenis pertanyaan bisa digunakan oleh guru untuk memancing siswa bertanya dan mengetahui taraf belajar siswa seperti untuk jenis pertanyaan yang, menguji ingatan, pemahaman, aplikasi dan level pertanyaan yang lebih tinggi seperti analisis, sintesis dan evaluasi tentang satu pokok bahasan.

Walau kegiatan berbicara hal yang esensial dalam aktivitas siswa di kelas, namun guru bisa mengarahkan siswa supaya kegiatan belajar ini mempunyai efek positif bila dilakukan secara bersamaan dengan kegiatan lain seperti: perbandingan (kelompok kecil siswa diberikan dua objek dan diminta untuk menyebutkan kesamaan dan perbedaan, bisa juga tentang ide/konsep); menjelaskan suatu prosedur percobaan dengan bahasanya sendiri yang menunjukkan tingkat pemahaman mereka; membuat peta konsep dari satu topic bahasan ataupun dari satu artikel surat kabar/majalah dengan tema sains; penyelesaian soal/masalah dan siswa diberikan waktu dan kesempatan untuk menjelaskannya baik kepada teman sejawat ataupun kelompok yang lebih besar; mengajukan pertanyaan, siswa dalam kelompok kecil mengajukan beberapa pertanyaan penting dalam topik tertentu.
Satu hal yang berhubungan dengan mendorong kegiatan siswa untuk berbicara adalah melalui pertanyaan yang diajukan oleh guru. Walaupun bertanya pada siswa merupakan sesuatu yang sederhana dan langsung, namun ini bisa menjadi masalah jika guru tidak tahu cara yang tepat untuk bertanya. Biasanya terdapat tiga masalah utama dalam hal ini yaitu: terlalu banyak bertanya dengan model pertanyaan konvergen dibandingkan dengan pertanyaan yang bersifat terbuka; waktu tunggu atau jeda setelah pertanyaan yang terlampau singkat; dan distribusi pertanyaan di dalam kelas. Ketiga hal ini akan dijelaskan bagaimana untuk menanganinya supaya didapatkan kegiatan berbicara siswa yang lebih efektif di dalam kelas.
Pertanyaan divergen dan konvergen. Dalam suatu proses pengajaran sains, seoarang guru banyak mengajukan pertanyaan, namun berbagai riset menunjukkan 80%-nya adalah pertanyaan yang mengingat fakta-fakta. Ini merupakan jenis pertanyaan tertutup atau konvergen. Dengan kata lain hanya maksimal sekitar 20% (bahkan ada yang menyebut 10%) saja pertanyaan dari guru sains yang menyuruh siswa untuk berpikir, yaitu jenis pertanyaan terbuka atau divergen. Perilaku bertanya guru ini menunjukkan suatu masalah yang serius karena terlalu menekankan pada pengingatan dan hapalan saja. Sedangkan pertanyaan divergen mempunyai berbagai keutamaan dalam menstimulasi pemikiran siswa, menjadikan mereka lebih inisiatif dan kreatif. Misalnya pertanyaan, “apakah ibukota Indonesia?” akan memberikan satu jawaban yang pasti, sangat berbeda bila ditanyakan, “apakah ciri-ciri ibukota Indonesia?”, dimana jawaban siswa akan sangat beragam misal dengan menyebut posisi geografis, tingkat perputaran uang, populasi penduduk, keadaan lalulintas yang macet, tingkat kriminalitas (banyaknya kasus kejahatan ataupun jumlah koruptor yang ditangkap) dll. Jenis pertanyaan konvergen dan dan divergen mempunyai fungsinya masing-masing, menempatkan salah satunya secara dominant akan membatasi perkembangan kognitif siswa dalam pembelajaran di kelas.
Waktu jeda. Waktu tunggu atau jeda adalah waktu dimana guru menunggu jawaban setelah mengajukan pertanyaan kepada siswa. Hasil riset menunjukkan bahwa guru tidak hanya sekedar banyak bertanya pada siswa, namun juga melakukannya dengan sangat cepat. Waktu jeda yang terjadi kadang sangat singkat, bisa kurang dari satu detik. Waktu jeda yang sangat singkat ini membatasi kesempatan siswa untuk berpikir, sehingga mereka tidak sempat untuk melakukan refleksi dan benar-benar berpikir. Waktu jeda yang baik minimal selama tiga detik atau lebih khususnya untuk pertanyaan yang membutuhkan berpikir yang hal ini akan menjadikan hasil pembelajaran siswa meningkat. Disamping itu, waktu jeda kedua juga penting untuk diterapkan, karena ini adalah jeda setelah siswa menjawab pertanyaan guru. Biasanya saat guru bertanya dan siswa menjawab, kemudian diikuti oleh komentar dari guru, maka waktu jeda kedua juga penting diberikan lebih longgar supaya siswa mempunyai kesempatan lebih baik untuk merespon.
Distribusi pertanyaan. Kecenderungan lainnya dari guru dalam hal bertanya dan mendorong siswa berbicara adalah memilih siswa yang akan menjawab pertanyaan. Dalam suasana kelas guru yang berada di depan selalu mengarah kepada bagian tengah dan depan, siswa yantg duduk di bagian pinggir atau belakang punya kecenderungan untuk sedikit dipilih untuk berbicara. Pada saat guru sadar akan hal ini, maka akan memberikan dampak positif dengan melakukan distribusi yang lebih merata pada siswa untuk mempunyai kesempatan menjawab dan berpartisipasi aktif, hal ini perlu perhatian terus karena guru berpengalaman pun bisa lupa akan hal ini. Kecenderungan lainnya adalah guru terbiasa untuk memberi perhatian lebih bagi siswa yang cerdas, antusias atau aktif dalam pembelajaran sains dibanding siswa yang diam saja. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang tidak memotivasi bagi siswa lain seperti siswa yang tidak cepat mengerti, siswa perempuan ataupun yang sulit mengemukakan pendapatnya.
Jenis aktivitas lain yang bisa digunakan oleh guru dalam kegiatan berbicara saat pembelajaran sains diantaranya adalah bermain peran dan hipotetitkal. Bermain peran (role playing) bisa memberi petunjuk dan bukti yang kuat tentang belajar aktif yang dilakukan oleh siswa. Siswa bisa diberikan satu skenario singkat mengenai satu hal yang berhubungan dengan pokok bahasan, misalnya siswa memerankan makanan yang dikonsumsi oleh manusia, untuk kemudian siswa diminta untuk mengilustarsikan apa yang terjadi pada saat makanan tersebut pada saat memasuki system pencernaan dan metabolisme manusia. Hal ini adalah model lain dari cara penulisan ekspresif yang bisa disampaikan secara bebas dan sesuai dengan kebenaran ilmiah dalam penjelasannya.
Sedangkan hipotetikal adalah upaya untuk memancing peran aktif siswa dalam kegiatan debat dan kontroversi tentang satu hal. Misalnya siswa diminta untuk menyiapkan argument pro dan kontra tentang penggunaan kantong plastik sebagai bungkus serba guna. Bila dilakukan dalam forum debat maka kegiatan hipotetikal ini akan menjadi lebih berkembang dan berbagai perspektif yang muncul akan menunjukkan daya kreativitasnya.
Mendengarkan dan Melihat

Kegiatan belajar dalam kelompok ini lebih dikhususkan dalam penggunaan alat audio atau audio-visual semacam tape, radio, video, TV, VCD, dan DVD. Untuk merencanakan kegiatan belajar ini guru perlu persiapan yang baik, dan kalau dipandang perlu membuat synopsis dan LKS-nya. Contoh LKS untuk satu DVD sains diberikan di bagian lampiran bab ini beserta rancangan pelaksanaan pengajarannya. Beberapa kemungkinan penyajian adalah: 1) buatlah aktivitas relatif singkat; film berdurasi lama dapat ditampilkan dalam beberapa bagian, dengan diikuti diskusi pendek atau aktivitas lain yang berhubungan; 2) aktivitas harus mempunyai fokus yang jelas, guru membuat LKS dan menyiapkan daftar pertanyaan sesuai urutan yang akan muncul di presentasi dimana jenis pertanyaannya bersifat factual; 3) berikan waktu jeda dan berikan pertanyaan pada siswa, untuk memeriksa apakah mereka melihat/mendengar, atau juga untuk mengetahui apakah mereka berpikir dan menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya atau info lainnya.
Sourch : Deceng

0 komentar:

Poskan Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger