Bloggroll

Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sains. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2011

Belajar Sains itu Menyenangkan

Belajar Sains? Menyenangkan Juga lhoo.

Apa yang terlintas di pikiran kamu setelah mendengar kata "sains"? Membosankan? Rumit? Bisa buat kepala pusing tujuh keliling? Tenang saja, sekarang sudah ada cara tertentu untuk mengatasi momok yang menyeramkan bagi sebagian besar murid di Indonesia.
Selama ini sebagian besar guru hanya mencekoki murid-muridnya dengan segala macam jenis rumus tanpa melakukan hal yang seharusnya dilakukan dalam mempelajari sains, seperti melakukan pengamatan yang cermat; mengorganisir dan menganalisis data; mengukur, membuat grafik, dan memahami hubungan spasial; memerhatikan dan menata pemikiran mereka sendiri; dan tahu kapan dan bagaimana cara mengaplikasikan pengetahuan mereka untuk memecahkan problem (Chapman, 2000).
Hal ini yang penting dalam mempelajari sains, justru dilupakan oleh guru, terutama di SD. Hal inilah yang menyebabkan banyak murid yang tidak pandai sains. Banyak ilmuwan dan pendidik percaya bahwa sekolah perlu lebih membimbing murid untuk mempelajari keahlian sains ini (Cocking, Mestre, & Brown, 2000; Penner, 2001; Tolman, 2002).
Dari penemuan dan investigasi laboratorium, banyak guru sains kini membantu murid-muridnya mengkonstruksi pengetahuan sains mereka (Chiapetta & Koballa, 2002; Martin, Sexton, & Franklin, 2002). Beberapa pendekatan konstruktivis untuk pengajaran sains dewasa ini menggunakan cara eksplorasi problem sains sehari-hari, yakni aktivitas yang membantu siswa berpikir tentang bagaimana sains bekerja, dan konteks sosial dari sains (Linn, Songer, & Eylon, 1996).
Program Science for Life and Living (SLL) (Biological Sciences Curriculum Study, 1989) yang didanai oleh National Science Foundation, merupakan salah satu pendekatan konstruktivis. Program ini menekankan pada (Biological Sciences Curriculum Study. 2001):
  • "Sains sebagai cara untuk mengetahui." Pernyataan ini mengandung gagasan bahwa sains bukan sekadar pengetahuan, tetapi juga cara unik untuk mempelajari dunia.
  • "Teknologi sebagai cara melakukan sesuatu." Fokusnya bukan pada komputer, tetapi pada pemahaman bagaimana orang menggunakan proses dan alat teknologi untuk memecahkan problem-problem praktis.
  • "Kesehatan sebagai cara berperilaku." Penekanannya pada penerapan keahlian penalaran ilmiah dalam membuat keputusan tentang kesehatan, fokus pada tema-tema seperti sebab dan akibat, serta pemahaman tentang cara berpikir kritis terhadap informasi yang mengklaim bisa meningkatkan kesehatan.
Dalam sebuah studi yang dilakukan di lima sekolah di North Carolina, murid-murid yang menggunakan kurikulum SLL mendapat nilai yang lebih tinggi pada ujian biologi dan ujian pemahaman konseptual lainnya ketimbang murid yang menggunakan kurikulum reguler (Maidon & Wheatly, 2001).
Selain dengan menggunakan pendekatan konstruktivis, ada cara lain yang dapat menjadikan sains sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kondisi psikologis siswa yang merasa seram dan benci pada pelajaran sains harus dibenahi jika Indonesia ingin maju dan berdaya saing. Karena itu, gagasan untuk menciptakan pembelajaran sains yang asyik dan menyenangkan harus terus digalakkan.
Yohanes Surya, ahli Fisika Indonesia, mengamati pembelajaran sains di Indonesia tidak maju karena guru lebih berfokus pada penghafalan rumus-rumus. Akibatnya, siswa menjadi terbebani dan tak mampu mengaplikasikan rumus-rumus itu untuk memecahkan persoalan melalui pendekatan sains.
Dari pengalamannya mengajar, Yohanes kemudian menciptakan pembelajaran Fisika tanpa rumus yang disebutnya Fisika gampang, asyik, dan menyenangkan (gasing) untuk membantu belajar siswa dan guru. Yohanes lewat Yayasan Surya Institute membuat VCD Fisika gasing yang mengajak siswa dan guru belajar fisika dengan memahami konsep dan menggunakan logika.
”VCD Fisika yang satu paketnya terdiri dari 20 keping itu boleh diperbanyak siapa saja. Cuma butuh dukungan dari pemerintah daerah dan swasta supaya VCD itu bisa diperbanyak dan disebarluaskan secara gratis ke sekolah-sekolah di seluruh Indonesia,” ujarnya.
Belajar sains yang tidak menarik buat siswa perlahan-lahan dipatahkan dengan menciptakan komik sains. PT Kuark Internasional yang digagas pemerhati pendidikan menciptakan tokoh-tokoh komik yang mengajarkan sains (Fisika, Zoologi, dan Astronomi) untuk siswa SD dengan kekuatan visual.
”Dengan bentuk komik, anak- anak tidak berat untuk belajar sains. Sambil tidur-tiduran atau di mana saja, mereka sudah bisa belajar. Suasana yang rileks itu membuat anak-anak yang tadinya antisains jadi mulai suka,” kata Gelar Soetopo, Pengelola Produksi PT Kuark Internasional.
Soetopo menambahkan, anak-anak juga dirangsang untuk melakukan kegiatan percobaan dengan memanfaatkan apa yang ada di sekeliling mereka. Para guru dan orangtua diharapkan bisa membantu dan mendorong anak untuk berpikir secara ilmiah.
”Belajar sains itu tidak hanya untuk menguasai ilmu sains, tetapi sains bisa mendorong hal lain pada diri anak seperti berpikir sistematis, logis, punya daya analisis, serta sabar untuk mencoba. Mau jadi ilmuwan atau tidak, anak-anak ini ke depannya bisa berpikir secara ilmiah,” katanya sambil menyebutkan komik sains Kuark sudah mencapai tiras 75.000 eksemplar.
Pembelajaran sains yang menyenangkan dan membuat anak asyik sudah 22 tahun dilakukan PT Pesona Edukasi, pencipta perangkat lunak Pesona Fisika dan Pesona Matematika dari SD-SMA/ SMK. Perangkat lunak pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi itu menyajikan pembelajaran Fisika dan Matematika dengan menggunakan animasi yang interaktif.
Siswa bisa tertawa saat belajar sains yang tadinya menakutkan. Materi yang diajarkan di perangkat lunak karya asli Indonesia yang sudah diekspor ke mancanegara itu dirancang sesuai kurikulum hingga memudahkan guru dan siswa belajar Fisika dan Matematika di sekolah.
Gairah belajar sains yang mulai tumbuh berkat adanya terobosan yang dilakukan anak-anak bangsa untuk memutus ”ketakutan” anak-anak pada sains itu perlu didorong. Pemerintah mestinya mampu memanfaatkan inisiatif dan inovasi yang tumbuh dari masyarakat ini dengan dukungan berupa kebijakan dan pendanaan. (Ester Lince Napitupulu) -Kompas-.
Sourch : Cassina

Pembelajaran Sains di Kelas 5

Berbicara
Seperti halnya kegiatan menulis dan membaca, berbicara juga mempunyai keutamaan dalam kegiatan belajar sains. Seperti halnya menulis, bermanfaat juga untuk membedakan kegiatan berbicara ini menjadi dua hal: berbicara kepada orang lain, yang berfokus untuk mengkomunikasikan ide dan informasi ke pihak lain (guru, siswa lainnya) secara formal di kelas atau dalam diskusi kelompok; berbicara pada diri sendiri, yang berfokus pada konstruksi pengetahuan individu tentang informasi baru yang diterimanya. Keduanya berbeda dilihat dari derajat keformalannya dan penggunaan bahasa yang dipakai. Berbagai jenis pertanyaan bisa digunakan oleh guru untuk memancing siswa bertanya dan mengetahui taraf belajar siswa seperti untuk jenis pertanyaan yang, menguji ingatan, pemahaman, aplikasi dan level pertanyaan yang lebih tinggi seperti analisis, sintesis dan evaluasi tentang satu pokok bahasan.

Walau kegiatan berbicara hal yang esensial dalam aktivitas siswa di kelas, namun guru bisa mengarahkan siswa supaya kegiatan belajar ini mempunyai efek positif bila dilakukan secara bersamaan dengan kegiatan lain seperti: perbandingan (kelompok kecil siswa diberikan dua objek dan diminta untuk menyebutkan kesamaan dan perbedaan, bisa juga tentang ide/konsep); menjelaskan suatu prosedur percobaan dengan bahasanya sendiri yang menunjukkan tingkat pemahaman mereka; membuat peta konsep dari satu topic bahasan ataupun dari satu artikel surat kabar/majalah dengan tema sains; penyelesaian soal/masalah dan siswa diberikan waktu dan kesempatan untuk menjelaskannya baik kepada teman sejawat ataupun kelompok yang lebih besar; mengajukan pertanyaan, siswa dalam kelompok kecil mengajukan beberapa pertanyaan penting dalam topik tertentu.
Satu hal yang berhubungan dengan mendorong kegiatan siswa untuk berbicara adalah melalui pertanyaan yang diajukan oleh guru. Walaupun bertanya pada siswa merupakan sesuatu yang sederhana dan langsung, namun ini bisa menjadi masalah jika guru tidak tahu cara yang tepat untuk bertanya. Biasanya terdapat tiga masalah utama dalam hal ini yaitu: terlalu banyak bertanya dengan model pertanyaan konvergen dibandingkan dengan pertanyaan yang bersifat terbuka; waktu tunggu atau jeda setelah pertanyaan yang terlampau singkat; dan distribusi pertanyaan di dalam kelas. Ketiga hal ini akan dijelaskan bagaimana untuk menanganinya supaya didapatkan kegiatan berbicara siswa yang lebih efektif di dalam kelas.
Pertanyaan divergen dan konvergen. Dalam suatu proses pengajaran sains, seoarang guru banyak mengajukan pertanyaan, namun berbagai riset menunjukkan 80%-nya adalah pertanyaan yang mengingat fakta-fakta. Ini merupakan jenis pertanyaan tertutup atau konvergen. Dengan kata lain hanya maksimal sekitar 20% (bahkan ada yang menyebut 10%) saja pertanyaan dari guru sains yang menyuruh siswa untuk berpikir, yaitu jenis pertanyaan terbuka atau divergen. Perilaku bertanya guru ini menunjukkan suatu masalah yang serius karena terlalu menekankan pada pengingatan dan hapalan saja. Sedangkan pertanyaan divergen mempunyai berbagai keutamaan dalam menstimulasi pemikiran siswa, menjadikan mereka lebih inisiatif dan kreatif. Misalnya pertanyaan, “apakah ibukota Indonesia?” akan memberikan satu jawaban yang pasti, sangat berbeda bila ditanyakan, “apakah ciri-ciri ibukota Indonesia?”, dimana jawaban siswa akan sangat beragam misal dengan menyebut posisi geografis, tingkat perputaran uang, populasi penduduk, keadaan lalulintas yang macet, tingkat kriminalitas (banyaknya kasus kejahatan ataupun jumlah koruptor yang ditangkap) dll. Jenis pertanyaan konvergen dan dan divergen mempunyai fungsinya masing-masing, menempatkan salah satunya secara dominant akan membatasi perkembangan kognitif siswa dalam pembelajaran di kelas.
Waktu jeda. Waktu tunggu atau jeda adalah waktu dimana guru menunggu jawaban setelah mengajukan pertanyaan kepada siswa. Hasil riset menunjukkan bahwa guru tidak hanya sekedar banyak bertanya pada siswa, namun juga melakukannya dengan sangat cepat. Waktu jeda yang terjadi kadang sangat singkat, bisa kurang dari satu detik. Waktu jeda yang sangat singkat ini membatasi kesempatan siswa untuk berpikir, sehingga mereka tidak sempat untuk melakukan refleksi dan benar-benar berpikir. Waktu jeda yang baik minimal selama tiga detik atau lebih khususnya untuk pertanyaan yang membutuhkan berpikir yang hal ini akan menjadikan hasil pembelajaran siswa meningkat. Disamping itu, waktu jeda kedua juga penting untuk diterapkan, karena ini adalah jeda setelah siswa menjawab pertanyaan guru. Biasanya saat guru bertanya dan siswa menjawab, kemudian diikuti oleh komentar dari guru, maka waktu jeda kedua juga penting diberikan lebih longgar supaya siswa mempunyai kesempatan lebih baik untuk merespon.
Distribusi pertanyaan. Kecenderungan lainnya dari guru dalam hal bertanya dan mendorong siswa berbicara adalah memilih siswa yang akan menjawab pertanyaan. Dalam suasana kelas guru yang berada di depan selalu mengarah kepada bagian tengah dan depan, siswa yantg duduk di bagian pinggir atau belakang punya kecenderungan untuk sedikit dipilih untuk berbicara. Pada saat guru sadar akan hal ini, maka akan memberikan dampak positif dengan melakukan distribusi yang lebih merata pada siswa untuk mempunyai kesempatan menjawab dan berpartisipasi aktif, hal ini perlu perhatian terus karena guru berpengalaman pun bisa lupa akan hal ini. Kecenderungan lainnya adalah guru terbiasa untuk memberi perhatian lebih bagi siswa yang cerdas, antusias atau aktif dalam pembelajaran sains dibanding siswa yang diam saja. Hal ini bisa menjadi sesuatu yang tidak memotivasi bagi siswa lain seperti siswa yang tidak cepat mengerti, siswa perempuan ataupun yang sulit mengemukakan pendapatnya.
Jenis aktivitas lain yang bisa digunakan oleh guru dalam kegiatan berbicara saat pembelajaran sains diantaranya adalah bermain peran dan hipotetitkal. Bermain peran (role playing) bisa memberi petunjuk dan bukti yang kuat tentang belajar aktif yang dilakukan oleh siswa. Siswa bisa diberikan satu skenario singkat mengenai satu hal yang berhubungan dengan pokok bahasan, misalnya siswa memerankan makanan yang dikonsumsi oleh manusia, untuk kemudian siswa diminta untuk mengilustarsikan apa yang terjadi pada saat makanan tersebut pada saat memasuki system pencernaan dan metabolisme manusia. Hal ini adalah model lain dari cara penulisan ekspresif yang bisa disampaikan secara bebas dan sesuai dengan kebenaran ilmiah dalam penjelasannya.
Sedangkan hipotetikal adalah upaya untuk memancing peran aktif siswa dalam kegiatan debat dan kontroversi tentang satu hal. Misalnya siswa diminta untuk menyiapkan argument pro dan kontra tentang penggunaan kantong plastik sebagai bungkus serba guna. Bila dilakukan dalam forum debat maka kegiatan hipotetikal ini akan menjadi lebih berkembang dan berbagai perspektif yang muncul akan menunjukkan daya kreativitasnya.
Mendengarkan dan Melihat

Kegiatan belajar dalam kelompok ini lebih dikhususkan dalam penggunaan alat audio atau audio-visual semacam tape, radio, video, TV, VCD, dan DVD. Untuk merencanakan kegiatan belajar ini guru perlu persiapan yang baik, dan kalau dipandang perlu membuat synopsis dan LKS-nya. Contoh LKS untuk satu DVD sains diberikan di bagian lampiran bab ini beserta rancangan pelaksanaan pengajarannya. Beberapa kemungkinan penyajian adalah: 1) buatlah aktivitas relatif singkat; film berdurasi lama dapat ditampilkan dalam beberapa bagian, dengan diikuti diskusi pendek atau aktivitas lain yang berhubungan; 2) aktivitas harus mempunyai fokus yang jelas, guru membuat LKS dan menyiapkan daftar pertanyaan sesuai urutan yang akan muncul di presentasi dimana jenis pertanyaannya bersifat factual; 3) berikan waktu jeda dan berikan pertanyaan pada siswa, untuk memeriksa apakah mereka melihat/mendengar, atau juga untuk mengetahui apakah mereka berpikir dan menghubungkan dengan pengetahuan sebelumnya atau info lainnya.
Sourch : Deceng

Pembelajaran Sains di Kelas 4

Membaca
Kegiatan belajar dengan membaca adalah hal yang utama dalam pendidikan. Tanpa kemampuan membaca maka pembelajaran apapun tidak akan dapat efektif dilaksanakan, apalagi untuk pelajaran sains. Membaca dalam pelajaran sains digunakan dalam berbagai media seperti buku teks, lembar kerja siswa (LKS), papan tulis, petunjuk praktikum, artikel surat kabar ataupun bacaan umum dengan tema tentang sains.

Buku teks yang biasanya merupakan bahan belajar siswa yang utama di sekolah, untuk membantu interpretasi materi pelajaran yang bersifat tekstual ini siswa perlu dibantu untuk menangkap informasi yang dibacanya. Artinya mereka harus mengidentifikasi dan memahami komponen penting, serta menghubungkannya ke dalam struktur aslinya. Beberapa strategi yang bisa dilakukan dengan membaca buku teks diantaranya adalah: a) menemukan informasi utama, dimana siswa akan mencari konsep yang dicari serta mendiskusikannya serta menghasilkan kesepakatan dari diskusi tersebut khususnya dengan sejawatnya; b) meringkas informasi, siswa mencari informasi yang diperlukan dan menggunakannya kemudian menuliskannya dengan bahasanya sendiri; c) menyajikan informasi dalam bentuk diagram alur, dimana siswa membahas bacaan tertentu kemudian membuat diagram berdasar informasi dari buku teks; d) pengurutan informasi, siswa dibagi dalam kelompok kecil yang dibagi bahan bacaan berbeda, kemudian mendiskusikan kemungkinan urutan bahan bacaan tadi.
Sedangkan untuk membaca dan menyelesaikan lembar kerja siswa (LKS), paling tidak terdapat dua fungsi utama, yaitu: pertama, LKS memberikan informasi yang terarah kepada siswa untuk dipahami dan diselesaikan tugasnya (transfer pengetahuan dan konstruksi pemahaman); dan kedua, LKS membuat siswa berpikir tentang apa yang mereka lakukan dan mengapa melaksanakan hal itu (metakognitif). Kebanyakan LKS yang ada di sekolah kita sudah dibuat oleh pihak di luar guru dan menjadi bahan belajar “mandiri” bagi siswa. Akan lebih baik bila guru memang menyediakan waktu untuk menyusun LKS yang akan secara langsung banyak membekali mereka dengan berbagai keahlian secara bersamaan (pencarian info, perluasan wawasan, komposisi teks, identifikasi kebutuhan belajar siswa dll). Beberapa petunjuk yang bisa digunakan dalam menyusun LKS diantaranya adalah: disusun secara menarik mungkin; gunakan judul dan sub-judul dalam menyusun tugasnya; gunakan bahasa yang mudah dipahami (hindari istilah teknis dan susun kalimat yang singkat); gunakan jenis-jenis pertanyaan bagaimana, mengapa, apa dan kenapa untuk membantu siswa menginterpretasi dan memahami tugas yang diberikan.
Untuk tulisan di surat kabar sebenarnya mempunyai banyak kegunaan sebagai bahan belajar yang bermanfaat bagi siswa. Artikel surat kabar memberikan ilustrasi mengenai konsep penting pada berbagai mata pelajaran dan persentasinya yang muncul di media; disamping itu tulisan surat kabar juga menyumbangkan konteks yang berharga dalam berbagai keterampilan kunci seperti akses pada informasi aktual, membaca secara reflektif, berpikir kritis, hasil dari suatu pembuatan keputusan dan lainnya. Berbagai kegunaan tadi tentunya tidak bersifat independent namun inter-relasi secara bersamaan saat siswa membaca dan berusaha memahami tulisan surat kabar. Malah sering dikatakan bahwa surat kabar adalah ‘buku teks yang hidup’ (living textbooks) yang membantu menjembatani jurang perbedaan antara kurikulum sekolah dan dunia nyata. Karena sifat artikel yang aktual dan sekilas (transient) tentu saja artikel surat kabar tidak bisa menggantikan buku teks atau LKS, namun bisa memperkaya pengetahuan siswa tentang berbagai isu yang popular di masyarakat. Misalnya artikel mengenai bencana Lumpur Lapindo bisa dimanfaatkan untuk mata pelajaran lingkungan, geografi, ilmu bumi, kimia, ekonomi, IPS dll. Masing-masing mata pelajaran bisa memakai artikel yang sama namun dengan pendekatan pada isu mata pelajarannya. Secara teknis, guru bisa memberikan artikel atau juga siswa mengajukannya, kemudian guru merancang kegiatan belajar berdasar tulisan surat kabar tersebut. Kegiatan belajar yang dimaksud bisa berupa diskusi, menyelesaikan LKS, debat dll. Deskripsi mengenai penggunaan artikel surat kabar terdapat pada blog ini juga.

Pembelajaran Sains di Kelas 3

Pembelajaran Sains di kelas 3, Meliputi :
Menulis

Kegiatan menulis adalah hal yang tidak terpisahkan dalam kegiatan pembelajaran. Paling tidak terdapat dua kegunaan menulis yang bisa diidentifikasi secara langsung. Pertama, kegiatan ini dapat dilihat sebagai cara transmisi/pemindahan ide dari penulis kepada pembacanya, misal dari guru ke siswa ataupun sebaliknya; kedua, menulis merupakan sarana dimana pengarangnya, misalnya siswa, dapat menginterpretasi ide yang ada dan menyusunnya kembali sesuai gaya dan bahasanya sendiri. Dengan menulis, siswa sebenarnya tidak harus dituntut untuk mereproduksi fakta/definisi/ide sesuai dengan yang telah dijelaskan oleh guru/buku teks, namun yang lebih utama adalah proses mengumpulkan berbagai ide tersebut dan men-sintesis-kannya menjadi tulisan yang memang dipahami olehnya. Sehingga menulis tidak harus selalu dilihat sebagai hasil belajar siswa (misal ringkasan isi mata pelajaran), namun juga harus dilihat sebagai cara belajar siswa yang menunjukkan bagaimana dia mengorganisasi pengetahuan dan pemahamannya.
Apa yang ditulis oleh siswa sebagai cara dia belajar juga tergantung kepada siapa tulisan tersebut ditujukan/audiensnya. Ketika siswa menulis audiensnya bisa kepada: mereka sendiri, guru (sebagai seorang guru, sebagai penilai/penguji pemahamannya, ataupun orang dewasa yang responsif dan dipercaya), untuk siswa lainnya ataupun untuk orang lain. Sebagian kegiatan menulis dalam hal pembelajaran di kelas, khususnya ditujukan untuk guru (sebagai penilai hasil belajar) dan biasanya dilakukan dalam pola transaksional. Yaitu, tulisan yang dibuat siswa untuk menyampaikan pengetahuan dan pemahamannya tentang fakta, teori, aturan, aplikasinya, penyelesaian soal ataupun definisi serta berbagai contohnya kepada guru. Terkadang apa yang ditulis oleh siswa pun biasanya sangat mirip dengan apa yang telah diberikan oleh guru, yang juga sebenarnya menunjukkan sedikitnya pemahaman yang mereka usahakan dalam hal konsep dan berbagai hubungannya, selain usaha mengingat. Tulisan yang dibuat oleh siswa biasanya diperiksa keakuratan dan cara pengerjaannya untuk kemudian diberikan nilai.
Salah satu cara alternatif yang bisa dilakukan oleh guru adalah mendorong siswa untuk menulis secara interpretif (konstruktif), dimana seorang guru sains seharusnya menilai tulisan tersebut bukan sebagai penguji untuk menilai keakuratan isi tulisan, namun sebagai orang dewasa yang mendorong siswa dengan upaya belajarnya melalui menulis. Mendorong siswa menulis dengan gaya interpretif dengan pilihan kata-katanya sendiri juga akan membantu guru untuk mengidentifikasi kesulitan belajar siswa yang muncul dari interpretasi mereka terhadap apa yang telah dibaca atau dipahami.
Perhatikanlah dua gaya penulisan di bawah ini yang menunjukkan gaya transaksional dan ekspresif tentang ikatan kima jenis ikatan ion, apakah kekuatan dan kelamahan keduanya menurut anda?
Transaksional
Ikatan ion terjadi antara unsur logam dengan non-logam. Contohnya pada unsur golongan alkali (natrium) dengan golongan halogen (klor). Ikatan ion terjadi pada saat atom natrium (Na) melepaskan satu elektron sehingga bermuatan +1 (Na+1) dan electron yang dilepaskan diterima oleh atom klor sehingga bermuatan negatif (Cl-1). Persamaan rekasinya secara lengkap adalah: 2 Na + Cl2  2 NaCl
Ekspresif
Garam dapur atau bernama ilmiah natrium klorida (NaCl) yang berasa asin dan merupakan komponen utama air laut merupakan contoh senyawa yang berikatan karena serah terima elektron. Salah satu unsur pembentuk garam dapur tersebut kelebihan elektron dan menyerahkannya ke yang lain supaya keduanya bisa stabil.
Kegiatan belajar siswa melalui tulisan juga bisa berbentuk penugasan tertulis dimana sumber bacaan, struktur tulisan dan kriteria penilaian disebutkan secara detail; sedangkan saat lingkup tugas disebutkan namun siswa harus menemukan sumber bacaan dan menentukan format presentasinya maka siswa dituntut mengerjakan proyek penulisan. Untuk yang pertama biasa disebut tugas tertulis sedangkan yang kedua disebut sebagai karya tulis/paper. Penulisan paper umumnya siswa diberikan kebebasan lebih untuk tiap bagiannya, bahkan bentuk akhir presentasinya tidak harus dalam bentuk tulisan saja namun dalam bentuk media cetak visual (poster, pamphlet, diagram) ataupun elektronik (presentasi power point, video klip, film pendek).
Yang perlu diingat bagi guru, pola penulisan yang berbeda dan kreatif mengenai satu topik tertentu, menulis untuk audien yang lain (misal siswa SMA menulis untuk dibaca anak SD) dapat meningkatkan kemampuan menulis siswa secara signifikan. Tugas penulisan kelompok kecil pun akan lebih bernilai bila dibandingkan dengan tugas individu.
Satu aspek yang jarang dikembangkan dalam pengajaran sains di sekolah-sekolah di Indonesia adalah menulis tentang topik-topik hangat dan kontroversial dalam hal sains yang berhubungan dengan kehidupan social (seperti isu energi, pemanasan global, banecana alam, pembalakan hutan dll). Disini secara bersamaan siswa dilatih untuk menemukan bahan-bahan yang berhubungan dengan topik yang ditentukan, baik cetak (buku, majalah, Koran) ataupun secara elektronik (internet). Dari bahan-bahan yang berhasil didapatkan siswa diminta untuk mengkoleksi sumber dan identitasnya, menuliskan ringkasan hal-hal yang penting yang ada di dalamnya, fokuskan ringkasan dalam hal kajian ilmiah dan dampak social dan lingkungannya, catat jika memang terdapat perspektif yang berbeda, nilailah apakah artikel yang didapat telah menampilkan secara lengkap dan putuskanlah apa yang masih perlu dibutuhkan. Hal ini pun lebih baik dilakukan dalam kelompok kecil siswa, dimana mereka berdiskusi, merancang tulisan dan menampilkannya. Penugasan seperti ini secara langsung akan melatih berbagai keterampilan hidup yang diinginkan dimiliki oleh siswa seperti pengumpulan informasi, analisis bahan yang didapat, tugas kelompok, dan mensintesis hal baru dalam bentuk karya tulis dan presentasinya.
Sourch : Deceng

Pembelajaran Sains di Kelas 2

Aktivitas kegiatan belajar di kelas
Disamping pengetahuan tentang teori belajar yang membantu guru memahami bagaimana siswa belajar dan memahami pelajaran sehingga bisa merancang kegiatan belajar yang efektif, guru juga perlu mengetahui berbagai alternatif kegiatan belajar siswa. Tabel dibawah menunjukkann variasi kegiatan pengajaran dan belajar yang bisa dilakukannya di kelas. Penjelasan berbagai aktivitas disesuaikan dengan urutan di dalam tabel tersebut untuk memudahkan, walaupun pada kenyataannya berbagai aktivitas berbeda bisa dilakukan di dalam kelas dalam waktu yang bersamaan atau malah paralel. Kegiatan praktik pada tabel di bawah lebih dikhususkan pada lingkup kegiatan belajar di kelas (bukan di laboratorium).

Tabel Aktivitas kegiatan belajar siswa

Menulis
• menulis laporan praktikum
• mencatat tentang isi pelajaran
• menjawab pertanyaan guru atau pertanyaam dari buku teks
• menyelesaikan LKS
• menulis untuk presentasi di depan kelas
• menulis tugas essay
• menulis untuk audiens yang berbeda Melihat/mengamati
• demonstrasi yang dilakukan oleh guru atau siswa
• demonstrasi dengan komputer
• TV, Video, VCD, DVD atau Film
• menyimak guru yang menulis hal-hal penting di papan tulis
• menyimak prosedur perhitungan di papan tulis
Membaca
• membaca buku teks
• membaca artikel koran/majalah
• memahami LKS/petunjuk praktikum
• membaca studi kasus Praktik
• membuat model
• bekerja dengan komputer
• menggambar
• menyalin/memberikan label pada diagram
• menghitung
• membuat grafik
• bermain simulasi
• menyelesaikan kuis
• mengajar pada siswa lain (peer teaching)
• membuat peta konsep
• membuat diagram alur
• menyelesaikan masalah
Mendengarkan
• mendengarkan guru menerangkan pelajaran
• mendengarkan radio/tape
• mendengarkan pembicara tamu
• mendengarkan siswa yang lain
Berbicara
• menjawab pertanyaan guru
• menjawab pertanyaan tertulis dari guru atau buku teks
• diskusi group yang kecil
• debat
• bertanya
• bertukar pendapat/ide
• bermain peran
Melihat/mengamati
  • · demonstrasi yang dilakukan oleh guru atau siswa
  • · demonstrasi dengan komputer
  • · TV, Video, VCD, DVD atau Film
  • · menyimak guru yang menulis hal-hal penting di papan tulis
  • menyimak prosedur perhitungan di papan tulis
Praktik
  • · membuat model
  • · bekerja dengan komputer
  • · menggambar
  • · menyalin/memberikan label pada diagram
  • · menghitung
  • · membuat grafik
  • · bermain simulasi
  • · menyelesaikan kuis

Pengajaran Sains di Kelas 1

Pengajaran Sains di Kelas 1: pendahuluan
Bayangkanlah anda berada di satu kelas pada pelajaran biologi di satu sekolah menengah dan diberikan suatu masalah dan diminta untuk mengevaluasi satu percobaan dan kesimpulannya, yang berasal dari laporan eksperimen di bawah ini beserta pembahasannya:
Sekelompok biologiwan membandingkan data dari berbagai penjuru dunia dan menemukan bahwa populasi kodok mengalami pengurangan dalam jumlah yang drastis. Hal ini membawa kekhawatiran pada mereka karena populasi kodok merupakan salah satu species yang menjadi indikator adanya perubahan lingkungan yang serius dan juga bisa membahayakan pada manusia. Para pakar biologi tadi kemudian mempertimbangkan beberapa hipotesis yang berhubungan dengan pengurangan jumlah kodok di alam. Salah satunya adalah berhubungan dengan peristiwa polusi udara global terlepasnya senyawa CFC (kloro-floro-karbon) sehingga menyebabkan terlalu banyaknya terpaan sinar ultraviolet yang terjadi karena menipisnya lubang ozon di atmosfer.

Satu grup peneliti tersebut memutuskan untuk menguji hipotesis sinar ultraviolet ini. Mereka menggunakan lima species kodok dengan jumlah yang sama antara kodok betina dan jantan. Setengah dari kodok itu menerima dosis tetap sinar ultraviolet selama empat bulan berturut-turut; ini adalah kelompok perlakukan. Setengah jumlah kodok lainnya yaitu kelompok control, dilindungi sehingga mereka tidak mendapat terpaan sinar ultraviolet.
Setelah lewat waktu empat bulan, biologiwan menemukan bahwa tidak ada perbedaan dalam hal tingkat kematian kodok dalam kelompok perlakuan maupun Kontrol. Hasil riset ini menyimpulkan bahwa sinar ultraviolet kemungkinan bukan satu penyebab berkurangnya populasi kodok di alam bebas.
Apakah pendapat anda tentang percobaan dan kesimpulan dari pakar biologi di atas? Adakah pertanyaan tambahan yang akan diajukan sebelum menerima kesimpulan riset tadi? Apakah anda mempunyai usulan percobaan lain yang perlu dilakukan?
Soal ini sudah pernah diberikan kepada ratusan siswa dan juga lulusan sekolah yang sudah mendapatkan pelajaran biologi di tingkat pendidikan menengah, di berbagai kesempatan. Kebanyakan mereka mengetahui dengan baik tentang perancangan percobaan dan bisa menganalisis kekuatan dan kelemahan percobaan kodok akibat terpaan sinar ultraviolet ini. Analisis yang didapat contohnya, sisi bagus riset ini meliputi: mempunyai kelompok kontrol dan perlakuan, melibatkan beberapa jenis species kodok, menggunakan sampling yang seimbang dll. Sedangkan kelemahan riset ini disebutkan: kemungkinan dosis ultraviolet yang diberikan terlalu sedikit, waktu percobaan yang relatif singkat (hanya empat bulan) dan kemungkinan periset tidak menunggu sampai dosis ini bisa menimbulkan efek, atau juga seharusnya melihat perbedaan penyakit yang diderita di kedua kelompok dibanding terfokus hanya pada tingkat kematian kodok saja.
Berbagai pendapat tentang kekuatan dan kelemahan percobaan di atas memang tepat, namun sayangnya ini merefleksikan kurangnya pengetahuan mendasar tentang biologi –suatu prinsip sangat dasar yang tidak terungkap dalam eksperimen di atas. Secara khusus, sangat sedikit sekali yang diberikan soal ini yang mempertanyakan fakta bahwa hanya kodok dewasa saja yang digunakan dalam percobaan di atas. Untuk memahami dampak lingkungan pada satu spesies, kita harus melihatnya dari siklus hidup spesies tersebut dan berusaha mengidentifikasi bagian mana dari siklus hidupnya yang sangat rawan. Contohnya, ketika pestisida DDT mengancam populasi burung yang langka, hal itu tidak terjadi dengan membinasakan secara langsung pada burung dewasanya tetapi melalui proses yang membuat kulit telur sangat rapuh sehingga mudah pecah sebelum anak burung sempat menetaskan diri. Jadinya, apa yang disebut perencanaan percobaan yang bagus sangatlah dipengaruhi oleh pengetahuan yang tepat dari disiplin ilmu tertentu. Dalam hal ini, mempelajari ‘metoda ilmiah’ secara abstrak telah gagal membantu siswa memahami ide penting percobaan di atas.
Ilustrasi di atas menggambarkan hasil belajar siswa (dan lulusan sekolah menengah) tentang sains yang sayangnya tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh guru sains. Mengajar pada dasarnya adalah membuat siswa belajar, dan tugas guru adalah membuat kondisi supaya hal ini terjadi. Konteks ilustrasi di atas adalah upaya pengajaran melalui pendekatan masalah dalam suasana belajar di kelas. Variasi pengajaran sains di kelas bisa sangat beragam, tidak hanya mengkritisi hasil satu eksperimen seperti contoh di atas (suatu yang biasanya jarang dilakukan oleh guru di Indonesia), namun berbagai bentuk pembelajaran siswa bisa dirancang dan dilakukan oleh guru untuk mencapai tujuan pemahaman sains yang baik oleh siswa.
Berbagai cara pembelajaran di dalam kelas rata-rata sudah dipahami dengan baik oleh guru, walaupun terkadang fokusnya adalah transfer pengetahuan dengan metoda ceramah/klasikal. Bagian ini akan mencoba membahas berbagai pembelajaran di kelas yang bisa dilakukan oleh guru secara lebih detail yaitu menulis, membaca, berbicara, melihat dan mendengar serta berbagai aktivitas praktek lainnya. Penekanan pada pembelajaran sains di kelas adalah untuk membedakan dengan pembelajaran yang dilakukan di laboratorium (eksperimentasi/percobaan yang akan dibahas di bagian selanjutnya). Diharapkan berbagai deskripsi kegiatan yang biasa dilakukan oleh para guru ini memberikan perspektif baru dalam hal melihat sesuatu yang rutin dilakukan oleh guru dalam hal pengajaran sains di kelas.

Sumber: Bransford, J. D., Brown, A. L., & Cocking, R. R. (Eds.). (1999). How People Learn: brain, mind, experience and school: National Research Council

Metode Ilmiah yang dilakukan dalam sebuah eksperimen

Masih ingatkah kamu, bahwa para Saintis mempelajari Sains melalui serangkaian Proses dan Metode Ilmiah yang teratur (sistematis) dalam melakukan sebuah eksperimen. Ilmuwan bekerja dengan menggunakan suatu cara atau metode tertentu yang disebut metode ilmiah. Dengan metode inilah, mereka dapat menentukan jawaban atas pertanyaan atau permasalahan yang timbul dan memecahkan persoalan masalah tersebut. Metode ini terinspirasi dari seorang dokter penemu vitamin B1 adalah Dr. Christian Eijkman tahun 1889.

Berikut tahapan- tahapan yang harus dilakukan dalam sebuah metode ilmiah :
1. Rumusan Masalah
Dalam membuat sebuah metode ilmiah, hal pertama yang harus dilakukan adalah Merumuskan Masalah yang ingin diteliti. Contoh : Mengapa banyak orang menderita penyakit Diabetes?
2. Melakukan Pengamatan
Setelah merumuskan masalah yang ingin kita cari. Langkah selanjutnya, adalah melakukan sebuah pengamatan terhadap masalah tersebut. Cari sesuatu target atau objek yang akan diamati dan dijadikan sample.
3. Mengumpulkan Informasi atau Data
Kumpulkan semua data yang anda peroleh dari pengamatan yang telah dilakukan. Ketika anda sedang mengamati sebuah benda atau pun partikel yang anda teliti. Catat semua informasi yang telah anda ketahui setelah melakukan penelitian terhadap objek tersebut. Dr. Christian Eijkman telah memeriksa darah penderita, tetapi tidak menemukan kuman penyebab beri-beri. Lalu ia memeriksa makanan pokok penderita dan mengamati pula bahwa ayam yang memakan sisa makanan penderita menunjukkan gejala kelumpuhan. Ketarangan atau data ini dicatatnya.
4. Menentukan Masalah
Setelah kamu mengumpulkan semua data yang ada. Selanjutnya, yaitu menentukan sebuah masalah yang ada pada objek anda. Contoh : dalam mengamati proses metamorfosis pada kupu-kupu, kita tidak hanya melakukan penelitian itu cukup sekali. Karena proses perkembang biakkan kupu-kupu adalah adanya perubahan bentuk dan wujud dari ulat menjadi kepompong lalu menjadi kupu-kupu. Oleh karena itu, Lakukanlah penelitian terhadap objek tersebut berulang kali. Lalu amati, apakah terjadi perubahan baik itu perubahan fisik, partikel, zat, suhu, warna, molekul, dan lainnya dari objek yang kamu amati. Jika ada catat semua data dan informasinya. Jika tidak ada perubahan yang terjadi, pikirkanlah masalah apa yang timbul dari kejadian- kejadian yang kita amati.
5. Menyusun Hipotesis (Dugaan atau Perkiraan)
Susunlah sebuah hipotesis yang berkaitan dengan masalah yang telah kamu tentukan tadi. Apakah yang terjadi setelahnya?, bagaimana proses perubahannya?, apakah hubungan yang terkait dari masalah tersebut? Dan lain lain. Dr. Christian Eijkman sendiri telah menyusun hipotesis terhadap masalah Zat Vitamin yang ditelitinya. Salah satunya adalah ia menduga bahwa ada keterkaitan atau hubungan antara penyakit beri- beri dengan makanan yang dimakan oleh penderita.
6. Melakukan Percobaan untuk Menguji Hipotesis
Untuk mendapatkan sebuah perkiraan yang tepat dan benar, kamu harus melakukan sebuah percobaan untuk menguji hipotesis tersebut. Lakukanlah percobaan- percobaan yang berhubungan dengan hipotesis anda. Lalu, buatlah sebuah perbedaan percobaan untuk dijadikan sebuah pembanding. Setelah kamu bandingkan percobaan pertama dengan percobaan lain, dan menghasilkan sebuah perbedaan atau gagasan penting. Uji percobaan anda dengan objek lain. yang memiliki struktur atau sesuatu yang hampir sama.
7. Buat sebuah kesimpulan sementara (Inferensi) 
Ambillah sebuah kesimpulan sementara dari semua percobaan yang telah dilakukan. Kesimpulan sementara ini (Inferensi) perlu diuji kembali dengan melakukan percobaan lagi. Setelah mendapat hasil yang baik dari permasalahn yang sebelumnya kamu tidak ketahui. Buat kesimpulan baru untuk menekankan kebenaran dari pernyataan dan hipotesis anda. Jika hasil yang anda peroleh adalah negatif atau berbeda dari hipotesis yang telah kamu buat lakukanlah penyusunan dan perancangan hipotesis baru.
8. Menyusun Laporan 
Ketika anda mengetahui bahwa hipotesis yang anda perkirakan ternyata benar. Langkah selanjutnya adalah membuat laporan mengenai hasil penelitian yang telah diperoleh. Laporan penelitian merupakan bagian yang penting dalam metode ilmiah. Laporan secara lisan biasanya disampaikan dalam suatu penemuan ilmiah (seminar). Dan laporan tertulis diterbitkan dalam suatu majalah yang dinamakan Jurnal Ilmiah atau dalam bentuk karya ilmiah. Melalui jurnal ilmiah ini, setiap hasl penelitian atau penemuan baru yang membuka cakrawala perkembangan ilmu pengetahuan dapat diuji kembali dan diketahui oleh para ilmuwan dan peneliti lainnya. Setelah diteliti dan terbukti benar, maka penemuan kamu akan dijadikan sebagai sebuah Teori dan dikembangkan menjadi sebuah Hukum.

Contohnya : Hasil penelitian Dr. Eijkman ini telah dihargai oleh Pemerintah Indonesia sehingga nama beliau diabadikan sebagai 'Lembaga Eijkman' pada laboratorium Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Powered by Blogger